Pentas Seni "Opera Pasir: Merekam Ingatan di Tanah Abrasi " Digelar Mahasiswa UNIMED di Pantai Merdeka Bagan Kuala



Serdang bedagai-tanjung beringin-kriminal24jam: Sebuah pagelaran seni budaya yang unik dan penuh makna diselenggarakan di kawasan wisata Pantai Merdeka, Desa Bagan Kuala, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. Kegiatan ini diinisiasi dan dilaksanakan oleh sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Medan (UNIMED), dengan mengusung konsep pertunjukan bertajuk “Opera Pasir: Merekam Ingatan di Tanah Abrasi”. Acara ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas generasi muda, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan penting mengenai kondisi lingkungan, sejarah kehidupan masyarakat pesisir, serta ancaman abrasi pantai yang semakin nyata di wilayah tersebut.

 

Pemilihan lokasi di Pantai Merdeka bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir Desa Bagan Kuala selama beberapa tahun terakhir mengalami perubahan kondisi alam yang cukup signifikan akibat abrasi, di mana garis pantai terus bergeser dan sejumlah lahan pemukiman serta lahan produktif masyarakat perlahan hilang terkikis air laut. Fenomena ini mengubah wajah wilayah dan cara hidup warga yang telah turun-temurun tinggal dan menggantungkan hidupnya dari laut. Melalui pertunjukan ini, para mahasiswa berusaha mengangkat kisah perjalanan masyarakat pesisir, memotret kenangan masa lalu, kondisi saat ini, serta harapan akan masa depan yang lebih baik di tengah tantangan kerusakan lingkungan yang dihadapi.

 

Dalam pertunjukan yang dikemas dalam bentuk opera pasir, para penampil memadukan unsur seni peran, gerak, musik tradisional maupun modern, serta pemanfaatan pasir pantai dan alam sekitar sebagai media utama pementasan. Setiap adegan yang disajikan menggambarkan berbagai sisi kehidupan: mulai dari masa-masa di mana pantai masih luas, aman, dan memberikan kelimpahan rezeki bagi warga, hingga perlahan-lahan datangnya perubahan alam akibat abrasi, tantangan yang harus dihadapi warga, serta upaya-upaya yang dilakukan untuk bertahan dan menjaga lingkungan tempat tinggal mereka. Seluruh alur cerita disusun sedemikian rupa sehingga mampu menyentuh perasaan penonton, sekaligus membuka wawasan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam.28/06/2026

 

Kegiatan ini disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh masyarakat setempat, tokoh desa, perangkat kecamatan, serta pengunjung yang hadir menyaksikan. Bagi warga Desa Bagan Kuala, cerita yang ditampilkan terasa sangat dekat dan menyentuh hati karena menceritakan kisah nyata yang mereka alami sehari-hari. Banyak penonton yang merasa bahwa pertunjukan ini seolah menjadi cara untuk mendokumentasikan kenangan, sejarah, dan perjuangan masyarakat pesisir agar tidak hilang ditelan waktu maupun terkikis oleh abrasi itu sendiri. Seperti yang tersirat dalam tajuknya, acara ini benar-benar menjadi sarana untuk “merekam ingatan” tentang apa yang pernah ada, apa yang sedang terjadi, dan apa yang perlu dijaga bersama.

 

Perwakilan mahasiswa UNIMED selaku penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud pengabdian dan kepedulian generasi muda terhadap kondisi sosial dan lingkungan di daerah sekitar. Mereka berharap melalui seni, pesan-pesan pelestarian alam dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima, menyenangkan, dan membekas di hati masyarakat luas, tidak hanya bagi warga setempat tetapi juga bagi pengunjung dan pihak terkait agar semakin peduli terhadap penanganan abrasi pantai. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal serta mempererat hubungan antara dunia pendidikan tinggi dengan masyarakat di daerah.

 

Kepala desa Bagan kuala bapak sapril memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara tersebut. Mereka menilai bahwa pentas seni semacam ini sangat bermanfaat, karena selain mempromosikan potensi wisata dan budaya Pantai Merdeka, juga menjadi pengingat bersama bahwa masalah abrasi adalah tanggung jawab semua pihak. Diperlukan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai elemen termasuk generasi muda untuk mencari solusi dan melakukan langkah nyata guna melindungi kawasan pesisir agar tetap layak huni dan bermanfaat bagi generasi mendatang.

 

Dengan berakhirnya pementasan, pesan yang dibawa oleh “Opera Pasir: Merekam Ingatan di Tanah Abrasi” diharapkan tidak berhenti begitu saja, melainkan terus bergema dan menginspirasi banyak pihak untuk lebih peduli, menjaga alam, dan menghargai sejarah serta perjuangan masyarakat pesisir. Kehadiran mahasiswa UNIMED melalui karya seni ini telah membuktikan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan yang kuat untuk menyampaikan kepedulian, menyatukan hati, dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik bagi lingkungan dan kehidupan bersama di Kabupaten Serdang Bedagai.

 

Yudi k nainggolan

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama