Wisata Relegi Besilam:Kampung Babussalam, Pusat Kesucian dan Ketenangan di Langkat


 Sumut-Langkat-Kriminal24jam: Di tengah hamparan perkebunan karet dan kelapa sawit, berjarak sekitar 65–75 kilometer dari Kota Medan, terletak sebuah kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam paling bersejarah dan paling sakral di Sumatera Utara. Tempat itu adalah Besilam, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Babussalam, terletak di Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat .

 

Makna dan Sejarah yang Mendalam

Nama "Besilam" berasal dari kata Arab Babussalam, yang berarti "Pintu Keselamatan" atau "Pintu Kebajikan". Nama ini bukan sekadar sebutan, melainkan cerminan hakikat tempat ini: gerbang menuju kedamaian dan keberkahan bagi siapa saja yang datang dengan niat tulus .jumat 4/09/2026

Kampung ini didirikan sekitar tahun 1883 oleh Syekh Abdul Wahab Rokan (1811–1926 M), ulama besar yang kemudian dikenal dengan gelar Tuan Guru Babussalam. Setelah menuntut ilmu agama selama bertahun-tahun di Mekkah—di antaranya berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abu Qubais—beliau kembali ke tanah kelahirannya membawa ijazah dan amanat untuk menyebarkan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Berkat dukungan Sultan Musa, Raja pertama Kesultanan Langkat yang memberikan sebidang tanah wakaf, Tuan Guru membangun perkampungan Islam lengkap dengan masjid, pesantren, dan pusat pendidikan rohani yang hingga kini menjadi pusat kerohanian yang sangat dihormati.

 

Kesakralan yang Terasa di Setiap Sudut

Kawasan Besilam menyimpan nilai kesakralan yang sangat tinggi. Di sini berdiri Masjid Besilam, tempat ibadah yang menjadi saksi perjalanan sejarah Islam di wilayah ini, serta Makam Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan yang menjadi tujuan utama ziarah ribuan orang dari berbagai penjuru negeri, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Di samping itu, terdapat Pondok Suluk Tarekat Naqsyabandiyah, pusat pembinaan rohani yang tetap berjalan menjaga tradisi ilmu dan amalan yang diturunkan sejak lebih dari satu abad lalu.

Suasana di Besilam terasa begitu tenang, hening, dan penuh ketakwaan. Jauh dari hiruk-pikuk kota, lingkungan kampung ini terjaga keasriannya. Masyarakat setempat hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama, kesopanan, dan adab. Peziarah yang datang pun tampak dengan wajah teduh, pakaian sopan, dan langkah yang penuh penghormatan, seolah-olah setiap jengkal tanah di sini adalah tempat yang suci dan harus dijaga kehormatannya.

 

Pusat Kerohanian yang Tak Pernah Sepi

Besilam bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan pusat kerohanian yang hidup dan terus berdenyut. Setiap tahun, saat peringatan Haul (Hari Ulang Tahun Wafat) Tuan Guru Babussalam, ribuan jemaah berdatangan berbondong-bondong. Mereka datang dari berbagai pelosok Sumatera, Aceh, Riau, hingga dari negeri tetangga, untuk berziarah, mendoakan, dan memohon keberkahan. Bahkan tokoh-tokoh besar bangsa—mulai dari Presiden, Gubernur, hingga pejabat tinggi negara—banyak yang pernah berkunjung ke sini untuk bersilaturahmi dan menimba ilmu .

 

Gubernur Sumatera Utara pun pernah menyampaikan: "Persulukan Besilam adalah berkah bagi masyarakat Sumut. Tidak semua daerah memiliki tempat sebesar dan seberkah ini. Jangan pernah disia-siakan tempat yang begitu hebat ini." 

Warisan Abadi

Besilam kini ditetapkan dan dikembangkan sebagai Destinasi Wisata Religi Nasional. Namun bagi mereka yang memahami maknanya, Besilam lebih dari sekadar objek wisata. Ia adalah tempat di mana sejarah, agama, budaya Melayu, dan kerohanian menyatu menjadi satu. Ia adalah "Pintu Keselamatan" yang tetap terbuka lebar, mengundang siapa saja yang ingin menenangkan hati, memperbaiki niat, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta .

 Disini juga ada dari kepolisian polsek padang tualang bapak aipda marianto sebagai bhabinkamtibmas menyatakan bahwa wisata religi di daerah hukumnya sangatlah terjaga dari bentuk kriminal dia berharap kepada pengunjung untuk jangan pernah khawatir untuk berwisata sekalian menimba ilmu agama

Di Kampung Babussalam, kesakralan tidak hanya ada dalam cerita, tetapi terasa nyata—terasa dalam keheningan, dalam doa yang terucap, dan dalam ketenangan yang menyelimuti setiap jiwa yang berkunjung ke sana.


Yudi k nainggolan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama